Cari Blog Ini

Jumat, 10 Juli 2015

DISTRIBUSI PELUANG KONTINU



PENDAHULUAN


LATAR BELAKANG

Bila kita mengingat kembali pengetahuan mengenai data yang dikelompokkan menjadi bentuk tabel distribusi frekuensi. Kita telah mengetahui bahwa dengan tabel distribusi frekuensi itu kita dapat membuat histogram, poligon, ogif dan menentukan frekuensi kemiringan suatu distribusi data.
Perhatikan bahwa dari poligon kita dapat melukis suatu kurva yang halus dan kontinu, yaitu grafik dari fungsi f(x). Dari kurva ini kita dapat menentukan bagaimana kemiringan dari suatu distribusi data. Dari kemiringan tersebu, kita dapat mengetahui bahwa ada tiga jenis kemiringan, yaitu miring ke kiri, simetri, dan miring ke kanan. Dan dari jenis kemiringan tersebut, kita akan mengetahui jenis-jenis dan intepretasi  dari distribusi kontinu, yaitu distribusi normal, chi-kuadrat, distribusi F, dan distribusi t ?


RUMUSAN MASALAH


  1. Apa pengertian distribusi normal, chi-kuadrat, distribusi F, dan distribusi t ?
  2. Apa persamaan umum dari distribusi normal, chi-kuadrat, distribusi F, dan distribusi t ?





PEMBAHASAN

DISTRIBUSI NORMAL

Dikenalnya distribusi normal diawali oleh kemajuan yang pesat dalam pengukuran pada abad ke 19. Pada waktu itu, para ahli matematika dihadapkan pada suatu tantangan mengenai fenomena variabilitas pengamat atau interna yang artinya bila seorang mengadakan pengukuran berulang-ulang maka hasilnya akan berbeda-beda.

Yang menjadi pertanyaan adalah nilai manakah yang dianggap paling tepat dari semua hasil pengukuran tersebut. Maka kemudian berdasarkan kesepakatan maka nilai rata-rata dianggap paling tepat dan semua penyimpangan dari rata-rata dianggap suatu kesalahan atau error.
Abraham de Moivre adalah yang pertama kali memperkenalkan distribusi normal ini dan kemudian dipopulerkan oleh Carl Fredreich Gauss. Sehingga nama lain distribusi ini adalah distribusi Gauss.

Ciri-ciri distribusi normal

Distribusi normal mempunyai beberapa sifat dan ciri, yaitu:

  • Disusun dari variable random kontinu
  • Kurva distribusi normal mempunyai satu puncak (uni-modal)
  • Kurva berbentuk simetris dan menyerupai lonceng hingga mean, median dan modus terletak pada satu titik.
  • Kurva normal dibentuk dengan N yang tak terhingga.
  • Peristiwa yang dimiliki tetap independen.
  • Ekor kurva mendekati absis pada penyimpangan 3 SD ke kanan dan ke kiri dari rata-rata dan ekor grafik dapat dikembangkan sampai tak terhingga tanpa menyentuh sumbu absis.


Distibusi normal standar

Suatu distribusi normal tidak hanya memiliki satu kurva, tetapi merupakan kumpulan kurva yang mempunyai ciri-ciri yang sama.sehingga harus ditentukan 1 pegangan sebagai distribusi nprmal yang standar.

Ada 2 cara untuk menentukan distribusi normal :

1. cara ordinat:
Menggunakan rumus distribusi normal berikut :



µ = rata-rata
σ   = simpang baku
π = 3,1416 (bilangan konstan)
e = 2,7183 (bilangan konstan)
X = absis dengan batas -∞ < X < π

Bila nilai µ dan σ tetap maka setiap nilai x akan menghasilkan nlai y sehingga bila nilai x dimasukkan dalam perhitungan berkali-kali dengan julah tak terhingga maka akan dihasilkan suatu kurva distribusi normal. Terdapat banyak kurva  normal dengan bentuk yang berlainan, tergantung dari besar dan kecilnya σ.

Bila σ besar, kurva yang terbentuk mempunyai puncak yang rendah, sebaliknya bila σ kecil akan menghasilkan puncak kurva yang tinggi.
Dapat pula bentuk kurva normal dengan µ yang  berbeda atau dengan µ dan σ yang berbeda






2. Cara luas
Kurva normal adalah kurva yang simetris, yang berarti bahwa kurva ini akan membagi luas kurva  menjadi 2 bagian yang sama.Seluruh luas kurva = 1 atau 100% dan rata-rata (µ) membagi luas kurva menjadi 2 bagian yang sama. Berarti luas tiap belahan adalah 50%. Setiap penyimpangan rata-rata dapat ditentukan presentase terhadap seluruh luas kurva. Penyimpangan ke kanan dan ke kiri :
-.penyimpangan  1 SD = 68,2% dari seluruh luas kurva.
-.penyimpangan 2 SD = 95,5% dari seluruh luas kurva.
-.penyimpangan 3 SD, = 99,7% dari seluruh luas kurva.



Proses standarisasi dapat dilakukan dengan transformasi rumus (kurva normal standar) :

            Z = x - µ
                     σ

      x = nilai variable random
µ = rata-rata distribusi
σ = simpang baku
Z = nilai standar, yaitu besarnya penyimpangan suatu nilai terhadap  rata-rata yang dinyatakan dari unit SD.

Standarisasi penting dilakukan karena ada variabel random yang memiliki satuan yang berbeda-beda, seperti cm, kg, bulan.
Untuk memudahkan perhitungan dapat digunakan sebuah table yang menunjukkan luas area di bawah kurva normal antara nilai rata-rata dan suatu nilai variable random yang dinyatakan dalam unit SD.

Misalnya : luas 95% adalah 1,96 SD.
Untuk transformasi distribusi normal menjadi distribusi normal  standar dinyatakan  µ = 0 dan σ = 1.


Penggunaan tabel distribusi normal

Tabel distribusi normal standar terdiri dari kolom dan baris. Kolom paling kiri menunjukkan nilai Z, tertera angka 0 sampai 3 dengan satu desimal dibelakangnya. Desimal berikutnya terletak pada baris paling atas dengan angka dari 0 sampai 9.
Misalnya dari hasil perhitungan diperoleh nilai Z = 1,96
Maka di kolom kiri kita cari nilai1,9 dan baris atas kita cari angka 6
Dari kolom 6 bergarak ke bawah, hingga pertemuan titik yang menunjukkan angka 0,4750.
Berarti luas daerah di dalam kurva normal antara rata-rata dengan 1,96 SD ke kanan adalah 0,475.
Karena luas kurva ke kanan dan ke kiri sama, maka luas penyimpangan 1,96 ke kanan dan ke kiri dari rata-rata adalah 0,95 (95%).

Aplikasi distribusi normal

Sebagai contoh aplikasi distribusi normal, dilakukan suatu evaluasi thd pengobatan TB menggunakan Rifampicin dengan rata-rata kesimpulan 200 hari dan standar deviasinya sebesar 10. Berapakah probabilitas kesembuhan antara 190 dan 210?
 Jawab :
     Mula-mula dihitung nilai Z =210
     Z= (210-200)/10 = 1=0,3413
     jadi probabilitas kesembuhan 190 sampai 210 = 0,3413+0,3413=0,6826=68,26



Contoh penggunaan:
Hitung P (X<1 br="">
Penyelesaian:

1,25 = 1,2 + 0,05 maka pada tabel, carilah angka 1,2 pada kolom paling kiri. Selanjutnya, carilah angka 0,05 pada baris paling atas. Sel pada pertemuan kolom dan baris tersebut adalah 0,8944.
Dengan demikian, P (X<1 0="" adalah="" o:p="">




DISTRIBUSI T – STUDENT  ( DISTRIBUSI T )

Untuk sampel nukuran n   3, taksiran σ^2 dapat diperoleh dengan menghitung nilai S2. Bila n   30, maka S2 memberikan taksiran σ^2 yang baik dan tidak berubah dan distribusi statistik ((X ̅-μ))⁄((S⁄√n)) masih secara hampiran, berdistribusi sama dengan peubah normal baku z.
Bila ukuran sampel  ( n < 30 ), nilai S2 berubah cukup besar  dari sampel ke sampel dan distribusi peubah acak ((X ̅-μ))⁄((S⁄√n))  tidak lagi distribusi normal baku.
Dalam hal ini didapatkan distribusi statistik yang disebut T


Distribusi sampel  T di dapat  dari anggapan bahwa sampel acak berasal dari populasi normal.
T=(((X ̅-μ))⁄((σ⁄(√n))))/√(S^2⁄σ^2 )=Z/√(V(n-1))
Dengan ,
Z=(X ̅-μ)/(σ⁄√n)
Berdistribusi normal baku,dan
V=((n-1) S^2)/σ^2

Misalkan Z peubah acak normal baku dan V peubah acak khi-kuadrat dengan derajat kebebasan v. Bila z dan v bebas, maka distribusi peubah acak T, bila


Diberikan oleh,




Ini di kenal dengan nama distribusi t dengan derajat kebebasan v.
Distribusi Z dan T berbeda karena variansi T bergantung pada ukuran sampel n dan variansi ini selalu lebih besar dari 1. Hanya bila ukuran sampel n→∞ kedua distribusi menjadi sama. Pada gambar dibawah diperlihatkan hubungan antara distribusi normal baku (v=∞) dan distribusi t untuk derajat kebebasan 2 dan 5.












Karena distribusi t setangkup terhadap rataan nol, maka t_(1-α)=〖-t〗_α; yaitu, nilai t yang luas sebelah kanannya 1-α, atau luas sebelah kirinya α, sama dengan minus nilai t yang luas bagian kanannya α.
Panjang selang nilai t yang dapat diterima tergantung pada bagaimana pentingnya μ. Bila μ ingin ditaksir dengan ketelitian yang tinggi, sebaiknya digunakan selang yang lebih pendek seperti 〖-t〗_0,05 sampai t_0,05.


   Contoh soal

Suatu pabrik bola lampu yakin bahwa bola lampunya akan tahan menyala rata – rata selama 500 jam. Untuk mempertahankan nilai tersebut, tiap bulan diuji 25 bola lampu. Bila  nilai t yang dihitung terletak antara 〖-t〗_0,05 dan t_0,05 maka pengusahan pabrik tadi akan mempertahankan kenyakinannya. Kesimpulan apa yang seharusnya dia ambil dari sampel dengan rataan x ̅  = 518 jam dan simpangan baku s = 40 jam? Anggap bahwa distribusi waktu menyala, secara hampiran, noramal.

Jawab :

Dari tabel 5 diperoleh t_0,05 = 1,711 untuk derajat kebebasan 24. Jadi pengusaha tadi akan puas dengan keyakinananya bila sampel 25 bola lampu memberikan nilai t antara -1,711 dan 1,711. Bila memang μ = 500, maka
t=(518-500)/(40/√25)=2,25

Suatu nilai yang cukup jauh di atas 1,711. Peluang mendapat nilai t, dengan derajat kebebasan v = 24, sama atau lebih besar dari 2,25, secara hampiran adalah 0,02. Bila μ>500, nilai t yang di hitung dari sampel akan lebih wajar. Jadi pengusaha tali kemungkinan besar akan menyimpilkan bahwa produksinya lebih nbaik daripada yang diduganya semula.


Distribusi F

Statistik F didefinisikan sebagai nisbah dua peubah acak khi-kuadrat yang bebas, masing – masing dibagi dengan derajat kebebasannya. Misalkan U dan V dua peubah acak bebas masing – masing berdistribusi khi-kuadrat dengan derajat kebebasan v_1  dan v_2. Maka distribusi peubah acak :





Diberikan oleh







ini dikenal dengan nama distribusi F dengan derajat kebebasan v_1 dan v_2
Kurva distribusi F tidak hanya tergantung pada kedua parameter  v_1 dan v_2  tapi juga pada urutan keduanya ditulis.begitu kedua bilangan itu ditentukan maka kurvanya menjadi tertentu. Dibawah ini adalah kurva khas distribusi F











Di bawah ini gambar kurva nilai tabel distribusi F











Lambang  f_α nilai  f  tertentu peubah acak F sehingga disebelah kanannya terdapat luas sebesar α. Ini digambarkan dengan daerah  yang dihitami pada gambar 2. Pada tabel  memberikan nilai f_α hanya untuk α=0,05 dan α=0,01 untuk berbagai pasangan derajat kebebasan v_1 dan v_2 Jadi, nilai f untuk derajat kebebasan 6 dan 10 , sehingga luas daerah sebelah kanannya 0,05 adalah f_0,05=3,22.

Tulislah f_α (v_1,v_2) untuk f_α dengan derajat kebebasan v_1 dan v_2, maka





Bila S_1^2 dan S_2^2 variansi sampel acak ukuran n_1 dan n_2 yang diambil dari dua populasi normal, masing-masing dengan variansi σ_1^2 dan σ_2^2, maka





Berdistribusi F dengan derajat kebebasan v_1=n_1-1 dan v_2=n_2-1

   Contoh :
Tentukan nilai dari F 0,05 (12,20)
Penyelesaian  :
Diketahui :
 p = 0,05
V_1=12 , V_2=20
Ditanya : F = . . . . ?

Jawab :
F 0,05 (12,20) = 2,28
P = 1 – 0,05 = 0,95
F 0,95 (20,12) = 1/(F0,05(12,20))=1/2,28=0,04
Jadi nilai F 0,05 (12,20) adalah 0,04



       Distribusi chi kuadrat

Dalam menganalisis uji statistik yang menggunakan distribusi chi-squared tentu saja perlu adanya perbandingan dengan batas untuk memutuskan apakah hipotesisnya diterima atau tidak. Untuk itu perlu adanya tabel chi-square yang bisa memutuskan hasil dari analisis. Berikut contoh batasan dari distribusi chi-square
Pada area hitam diatas merupakan daerah tolak hipotesis sedangkan yang putih untuk keputusan terima hipotesis awal. Garis pemisah antar dua daerah tersebut adalah gambaran dari tabel chi-square.
Bagian-bagian dari tabel chi-squared :
1.             Titik kritis (alpha), merupakan nilai peluang dari tingkat kesalahan yang dapat diterima. Nilai yang sering digunakan yaitu 0.05 (5%). nilai ini ditentukan oleh peneliti sebelumnya.
2.             Degree of freedom (df), atau derajat kebebasan. menentukan nilai degree of freedom ini berbeda-beda tiap metode yang digunakan. tapi umumnya jumlah sampel(n)-1.
3.             Nilai tabel chi-square. Merupakan nilai batas tolak atau terima hipotesis awal. Inilah yang akan dicari
Cara membaca tabel chi-sqaured
Dalam menguji tabel chi-squared dengan alpha 5% dan derajat bebas 5 tertulis seperti berikut. (0.05,5). Agar lebih jelas dalam membaca tabel chi-square gunakan gambar seperti berikut ini:

Penjelasan gambar tabel :
1.         Menjelaskan jenis dari tabel chi-square. terlihat bahwa ada tulis alpha menunjukkan bahwa tabel chi-square dengan titik kritis alpha.
2.         Kolom df. yang menunjukkan nilai df yang digunakan. contohnya yaitu5.
3.         Baris Alpha, menujukkan alpha yang digunakan. Jangan terkecoh dengan angka tersebut sesuai kan dengan jenis tabel seperti pada nomor 1.
4.         Nilai chi-square tabel, nilai ini lah yang dicari. caranya sangat mudah yaitu menghubungkan antar kolom df dan baris alpha yang digunakan seperti pada gambar diatas.


Contoh :
Misalnya kita memperoleh nilai statistik uji chi-square = 11,111 dari rumus yang digunakan atau software. kemudian dibandingkan dengan nilai tabel chi-square yang diperoleh diatas yaitu 11.070. Karena nilai uji stat  chi-square lebih besar dari nilai tabel chi-square. maka keputusan tolak H0. sebaiknya jika lebih kecil dari tabel chi-square maka keputusan terima H0. jika diilustrasikan dengan gambar diatas maka nilainya berada di daerah hitam. karena nilai tabel berada dibatas tersebut dan nilai uji stat lebih besar sehingga melewati batas tersebut.




DAFTAR PUSTAKA


Statistikdasar.com

http://keepcopying.blogspot.com/2013/12/distribusi-probabilitas-kontinu.html

http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0CB4QFjAA&url=http%3A%2F%2Fopenwetware.org%2Fimages%2Fc%2Fc8%2FMakalah_distribusi_probabilitas-normal-sampling.doc&ei=9_YpVezgIo--uASEtYCADA&usg=AFQjCNHoK5ap8olrwbDuVtAiCIJjZ_vFmw&sig2=A41o7iJ265Cl_Dr20jMdVQ

https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=0CCYQFjAB&url=https%3A%2F%2Fliliasinta.files.wordpress.com%2F2011%2F01%2Fdistribusi-t.docx&ei=fvcpVYvJIsKzuASC2IGQDQ&usg=AFQjCNF2SFBCZdhDDb1qyLftZJGjMt7kAw&sig2=2lRrhTbArJPcz2zDDea8Gw

Selasa, 30 Juni 2015

Taksonomi Bloom

Taksonomi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani yaitu tassein yang berarti mengklasifikasi dan nomos yang berarti aturan. Jadi Taksonomi berarti hierarkhi klasifikasi atas prinsip dasar atau aturan. Istilah ini kemudian digunakan oleh Benjamin Samuel Bloom, seorang psikolog bidang pendidikan yang melakukan penelitian dan pengembangan mengenai kemampuan berpikir dalam proses pembelajaran.

Sejarah taksonomi bloom bermula ketika awal tahun 1950-an, dalam Konferensi Asosiasi Psikolog Amerika, Bloom dan kawan-kawan mengemukakan bahwa dari evaluasi hasil belajar yang banyak disusun di sekolah, ternyata persentase terbanyak butir soal yang diajukan hanya meminta siswa untuk mengutarakan hapalan mereka. Konferensi tersebut merupakan lanjutan dari konferensi yang dilakukan pada tahun 1948. Menurut Bloom, hapalan sebenarnya merupakan tingkat terendah dalam kemampuan berpikir (thinking behaviors). Masih banyak level lain yang lebih tinggi yang harus dicapai agar proses pembelajaran dapat menghasilkan siswa yang kompeten di bidangnya. Akhirnya pada tahun 1956, Bloom, Englehart, Furst, Hill dan Krathwohl berhasil mengenalkan kerangka konsep kemampuan berpikir yang dinamakan Taxonomy Bloom.

 Jadi, Taksonomi Bloom adalah struktur hierarkhi yang mengidentifikasikan  skillsmulai dari tingkat yang rendah hingga yang tinggi. Tentunya untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, level yang rendah harus dipenuhi lebih dulu. Dalam kerangka konsep ini, tujuan pendidikan ini oleh Bloom dibagi menjadi tiga domain/ranah kemampuan intelektual (intellectual behaviors) yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.

Taksonomi Bloom mengalami dua kali perubahan perubahan yaitu Taksonomi yang dikemukakan oleh Bloom sendiri dan Taksonomi yang telah direvisi oleh Andreson dan KartWohl. Untuk pembahasan masing-masing dijelaskan sebagai berikut,

1. Ranah Kognitif
Ranah ini meliputi kemampuan menyatakan kembali konsep atau prinsip yang telah dipelajari, yang berkenaan dengan kemampuan berpikir, kompetensi memperoleh pengetahuan, pengenalan, pemahaman, konseptualisasi, penentuan dan penalaran. Tujuan pembelajaran dalam ranah kognitif (intelektual) atau yang menurut Bloom merupakan segala aktivitas yang menyangkut otak dibagi menjadi 6 tingkatan sesuai dengan jenjang terendah sampai tertinggi  yang dilambangkan dengan C (Cognitive) (Dalam buku yang berjudul Taxonomy of Educational Objectives. Handbook 1 : Cognitive Domain yang diterbitkan oleh McKey New YorkBenyamin Bloom pada tahun 1956) yaitu:
♦ C1 (Pengetahuan/Knowledge)
Pada jenjang ini menekankan pada kemampuan dalam mengingat kembali materi yang telah dipelajari, seperti pengetahuan tentang istilah, fakta khusus, konvensi, kecenderungan dan urutan, klasifikasi dan kategori, kriteria serta metodologi.  Tingkatan atau jenjang ini merupakan tingkatan terendah namun menjadi prasyarat bagi tingkatan selanjutnya. Di jenjang ini, peserta didik menjawab pertanyaan berdasarkan dengan hapalan saja.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam jenjang ini adalah : mengutip, menyebutkan, menjelaskan, menggambarkan, membilang, mengidentifikasi, mendaftar, menunjukkan, memberi label, memberi indeks, memasangkan, menamai, menandai, membaca, menyadari, menghafal, meniru, mencatat, mengulang, mereproduksi, meninjau, memilih, menyatakan, mempelajari, mentabulasi, memberi kode, menelusuri, dam menulis.
♦ C2 (Pemahaman/Comprehension)
Pada jenjang ini, pemahaman diartikan sebagai kemampuan dalam memahami materi tertentu yang dipelajari. Kemampuan-kemampuan tersebut yaitu :
  1. Translasi (kemampuan mengubah simbol dari satu bentuk ke bentuk lain)
  2. Interpretasi (kemampuan menjelaskan materi)
  3. Ekstrapolasi (kemampuan memperluas arti).
Di jenjang ini, peserta didik menjawab pertanyaan dengan kata-katanya sendiri dan dengan memberikan contoh baik prinsip maupun konsep.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam jenjang ini adalah : memperkirakan, menjelaskan, mengkategorikan, mencirikan, merinci, mengasosiasikan, membandingkan, menghitung, mengkontraskan, mengubah, mempertahankan, menguraikan, menjalin, membedakan, mendiskusikan, menggali, mencontohkan, menerangkan, mengemukakan, mempolakan, memperluas, menyimpulkan, meramalkan, merangkum, dan menjabarkan.
♦ C3 (Penerapan/Application)
Pada jenjang ini, aplikasi diartikan sebagai kemampuan menerapkan informasi pada situasi nyata, dimana peserta didik mampu menerapkan pemahamannya dengan cara menggunakannya secara nyata. Di jenjang ini, peserta didik dituntut untuk dapat menerapkan konsep dan prinsip yang ia miliki pada situasi baru yang belum pernah diberikan sebelumnya.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam jenjang ini adalah : menugaskan, mengurutkan, menentukan, menerapakan, menyesuaikan, mengkalkulasi, memodifikasi, mengklasifikasi, menghitung, membangun, membiasakan, mencegah, menggunakan, menilai, melatih, menggali, mengemukakan, mengadaptasi, menyelidiki, mengoperasikan, mempersoalkan, mengkonsepkan, melaksanakan, meramalkan, memproduksi, memproses, mengaitkan, menyusun, mensimulasikan, memecahkan, melakukan, dan mentabulasi.
♦ C4 (Analisis/Analysis)
Pada jenjang ini, dapat dikatakan bahwa analisis adalah kemampuan menguraikan suatu materi menjadi komponen-komponen yang lebih jelas. Kemampuan ini dapat berupa :
  1.  Analisis elemen/unsur (analisis bagian-bagian materi)
  2. Analisis hubungan ( identifikasi hubungan)
  3. Analisis pengorganisasian prinsip/prinsip-prinsip organisasi (identifikasi organisasi)
Di jenjang ini, peserta didik diminta untuk menguraikan informasi ke dalam beberapa bagian menemukan asumsi, dan membedakan pendapat dan fakta serta menemukan hubungan sebab akibat.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam jenjang ini adalah : menganalisis, mengaudit, memecahkan, menegaskan, mendeteksi, mendiagnosis, menyeleksi, memerinci, menominasikan, mendiagramkan, mengkorelasikan, merasionalkan, menguji, mencerahkan, menjelajah, membagankan, menyimpulkan, menemukan, menelaah, memaksimalkan, memerintahkan, mengedit, mengaitkan, memilih, mengukur, melatih, dan mentransfer.
♦ C5 (Sintesis/Synthesis)
Pada jenjang ini, sintesis dimaknai sebagai kemampuan memproduksi dan mengkombinasikan elemen-elemen untuk membentuk sebuah struktur yang unik. Kemampuan ini dapat berupa memproduksi komunikasi yang unik, rencana atau kegiatan yang utuh, dan seperangkat hubungan abstrak.
Di jenjang ini, peserta didik dituntut menghasilkan hipotesis atau teorinya sendiri dengan memadukan berbagai ilmu dan pengetahuan.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam jenjang ini adalah : mengabstraksi, mengatur, menganimasi, mengumpulkan, mengkategorikan, mengkode, mengkombinasikan, menyusun, mengarang, membangun, menanggulangi, menghubungkan, menciptakan, mengkreasikan, mengoreksi, merancang, merencanakan, mendikte, meningkatkan, memperjelas, memfasilitasi, membentuk, merumuskan, menggeneralisasi, menggabungkan, memadukan, membatas, mereparasi, menampilkan, menyiapkan, memproduksi, merangkum, dan merekonstruksi.
♦ C6 (Evaluasi/Evaluation)
Pada jenjang ini, evaluasi diartikan sebagai kemampuan menilai manfaat suatu hal untuk tujuan tertentu berdasarkan kriteria yang jelas. Kegiatan ini berkenaan dengan nilai suatu ide, kreasi, cara atau metode. Pada jenjang ini seseorang dipandu untuk mendapatkan pengetahuan baru, pemahaman yang lebih baik, penerapan baru serta cara baru yang unik dalam analisis dan sintesis. Menurut Bloom paling tidak ada 2 jenis evaluasi yaitu :
  1. Evaluasi berdasarkan bukti internal
  2. Evaluasi berdasarkan bukti eksternal
Di jenjang ini, peserta didik mengevaluasi informasi termasuk di dalamnya melakukan pembuatan keputusan dan kebijakan.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam jenjang ini adalah : membandingkan, menyimpulkan, menilai, mengarahkan, mengkritik, menimbang, memutuskan, memisahkan, memprediksi, memperjelas, menugaskan, menafsirkan, mempertahankan, memerinci, mengukur, merangkum, membuktikan, memvalidasi, mengetes, mendukung, memilih, dan memproyeksikan.
2. Ranah Afektif
Ranah afektif adalah ranah yang berhubungan dengan sikap, nilai, perasaan, emosi serta derajat penerimaan atau penolakan suatu obyek dlam kegiatan belajar mengajar.
Kartwohl & Bloom (Dimyati & Mudjiono, 1994; Syambasri Munaf, 2001) membagi ranah afektif menjadi 5 kategori yaitu :
♦ Receiving/Attending/Penerimaan
Kategori ini merupakan tingkat afektif yang terendah yang meliputi penerimaan masalah, situasi, gejala, nilai dan keyakinan secara pasif.Penerimaan adalah semacam kepekaan dalam menerima rangsanagn atau stimulasi dari luar yang datang pada diri peserta didik. Hal ini dapat dicontohkan dengan sikap peserta didik ketika mendengarkan penjelasan pendidik dengan seksama dimana mereka bersedia menerima nilai-nilai yang diajarkan kepada mereka danmereka memiliki kemauan untuk menggabungkan diri atau mengidentifikasi diri dengan nilai itu.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam kategori ini adalah : memilih, mempertanyakan, mengikuti, memberi, menganut, mematuhi, dan meminati.
♦ Responding/Menanggapi
Kategori ini berkenaan dengan jawaban dan kesenangan menanggapi atau merealisasikan sesuatu yang sesuai dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat. Atau dapat pula dikatakan bahwa menanggapi adalah suatu sikap yang menunjukkan adanya partisipasi aktif untuk mengikutsertakan dirinya dalam fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadapnya dengan salah satu cara. Hal ini dapat dicontohkan dengan menyerahkan laporan tugas tepat pada waktunya.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam kategori ini adalah : menjawab, membantu, mengajukan, mengompromi, menyenangi, menyambut, mendukung, menyetujui, menampilkan, melaporkan, memilih, mengatakan, memilah, dan menolak.
♦ Valuing/Penilaian
Kategori ini berkenaan dengan memberikan nilai, penghargaan dan kepercayaan terhadap suatu gejala atau stimulus tertentu. Peserta didik tidak hanya mau menerima nilai yang diajarkan akan tetapi berkemampuan pula untuk menilai fenomena itu baik atau buruk. Hal ini dapat dicontohkan dengan bersikap jujur dalam kegiatan belajar mengajar serta bertanggungjawab terhadap segala hal selama proses pembelajaran.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam kategori ini adalah : mengasumsikan, meyakini, melengkapi, meyakinkan, memperjelas, memprakarsai, mengundang, menggabungkan, mengusulkan, menekankan, dan menyumbang.
♦ Organization/Organisasi/Mengelola
Kategori ini meliputi konseptualisasi nilai-nilai menjadi sistem nilai, serta pemantapan dan prioritas nilai yang telah dimiliki. Hal ini dapat dicontohkan dengan kemampuan menimbang akibat positif dan negatif dari suatu kemajuan sains terhadap kehidupan manusia.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam kategori ini adalah : menganut, mengubah, menata, mengklasifikasikan, mengombinasi, mempertahankan, membangun, membentuk pendapat, memadukan, mengelola, menegosiasikan, dan merembuk.
♦ Characterization/Karakteristik
Kategori ini berkenaan dengan keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Proses internalisais nilai menempati urutan tertinggi dalam hierarki nilai. Hal ini dicontohkan dengan bersedianya mengubah pendapat jika ada bukti yang tidak mendukung pendapatnya.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam kategori ini adalah : mengubah perilaku, berakhlak mulia, mempengaruhi,  mendengarkan, mengkualifikasi, melayani, menunjukkan, membuktikan dan memecahkan.
3. Ranah Psikomotor
Ranah ini meliputi kompetensi melakukan pekerjaan dengan melibatkan anggota badan serta kompetensi yang berkaitan dengan gerak fisik (motorik) yang terdiri dari gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, ketepatan, keterampilan kompleks, serta ekspresif dan interperatif.
Kategori yang termasuk dalam ranah ini adalah:
♦ Meniru
Kategori meniru ini merupakan kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan contoh yang diamatinya walaupun belum dimengerti makna ataupun hakikatnya dari keterampilan itu.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam kategori ini adalah : mengaktifan, menyesuaikan, menggabungkan, melamar, mengatur, mengumpulkan, menimbang, memperkecil, membangun, mengubah, membersihkan, memposisikan, dan mengonstruksi.
♦ Memanipulasi
Kategori ini merupakan kemampuan dalam melakukan suatu tindakan serta memilih apa yang diperlukan dari apa yang diajarkan.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam kategori ini adalah : mengoreksi, mendemonstrasikan, merancang, memilah, melatih, memperbaiki, mengidentifikasikan, mengisi, menempatkan, membuat, memanipulasi, mereparasi, dan mencampur.
♦ Pengalamiahan
Kategori ini merupakan suatu penampilan tindakan dimana hal yang diajarkan dan dijadikan sebagai contoh telah menjadi suatu kebiasaan dan gerakan-gerakan yang ditampilkan lebih meyakinkan.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam kategori ini adalah : mengalihkan, menggantikan, memutar, mengirim, memindahkan, mendorong, menarik, memproduksi, mencampur, mengoperasikan, mengemas, dan membungkus.
♦ Artikulasi
Kategori ini merupakan suatu tahap dimana seseorang dapat melakukan suatu keterampilan yang lebih kompleks terutama yang berhubungan dengan gerakan interpretatif.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam kategori ini adalah : mengalihkan, mempertajam, membentuk, memadankan, menggunakan, memulai, menyetir, menjeniskan, menempel, mensketsa, melonggarkan, dan menimbang.


Revisi Taksonomi Bloom


Pada tahun 1994, salah seorang murid Bloom, Lorin Anderson Krathwohl dan para ahli psikologi aliran kognitivisme memperbaiki taksonomi Bloom agar sesuai dengan kemajuan zaman. Hasil perbaikan tersebut baru dipublikasikan pada tahun 2001 dengan nama Revisi Taksonomi Bloom. Revisi hanya dilakukan pada ranah kognitif. Revisi tersebut meliputi:

1. Perubahan kata kunci dari kata benda menjadi kata kerja untuk setiap level taksonomi.
2. Perubahan hampir terjadi pada semua level hierarkhis, namun urutan level masih sama yaitu dari urutan terendah hingga tertinggi. Perubahan mendasar terletak pada level 5 dan 6. Perubahan-perubahan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

 Pada level 1, knowledge diubah menjadi remembering (mengingat).
 Pada level 2, comprehension dipertegas menjadi understanding (memahami).
 Pada level 3, application diubah menjadi applying (menerapkan).
 Pada level 4, analysis menjadi analyzing (menganalisis).
 Pada level 5, synthesis dinaikkan levelnya menjadi level 6 tetapi dengan perubahan mendasar, yaitu creating (mencipta).
 Pada level 6, Evaluation turun posisisinya menjadi level 5, dengan sebutan evaluating(menilai).

Jadi, Taksonomi Bloom baru versi Kreathwohl pada ranah kognitif terdiri dari enam level: remembering (mengingat), understanding (memahami), applying (menerapkan), analyzing (menganalisis, mengurai), evaluating (menilai) dan creating (mencipta). Revisi Krathwohl ini sering digunakan dalam merumuskan tujuan belajar yang sering kita kenal dengan istilah C1 sampai dengan C6.

Sama dengan sebelum revisi, tiga level pertama (terbawah) merupakan Lower Order Thinking Skills, sedangkan tiga level berikutnya Higher Order Thinking Skill. Jadi, dalam menginterpretasikan piramida di atas, secara logika adalah sebagai berikut:

- Sebelum kita memahami sebuah konsep maka kita harus mengingatnya terlebih dahulu
- Sebelum kita menerapkan maka kita harus memahaminya terlebih dahulu
- Sebelum kita menganalisa maka kita harus menerapkannya dulu
- Sebelum kita mengevaluasi maka kita harus menganalisa dulu
- Sebelum kita berkreasi atau menciptakan sesuatu, maka kita harus mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis dan mengevaluasi.

Beberapa kritik dilemparkan kepada penggambaran piramida ini. Ada yang beranggapan bahwa semua kegiatan tidak selalu harus melewati tahap yang berurutan. Proses pembelajaran dapat dimulai dari tahap mana saja tergantung kreasi tiap orang. Namun demikian, memang diakui bahwa pentahapan itu sebenarnya cocok untuk proses pembelajaran yang terintegrasi.
Hingga saat ini ranah afektif dan psikomotorik belum mendapat perhatian. Skill menekankan aspek psikomotorik yang membutuhkan koordinasi jasmani sehingga lebih tepat dipraktekkan bukan dipelajari. Attitude juga merupakan faktor yang sulit diubah selama proses pembelajaran karena attitude terbentuk sejak lahir. Mungkin itulah alasan mengapa revisi baru dilakukan pada ranah kognitif yang difokuskan pada knowledge.




KONSEP PERMASALAHAN DALAM BELAJAR






Permasalahan Pendidikan di Indonesia

Pembangunan di Indonesia memang terus bergulir, akan tetapi sudah seimbangkah dengan pembangunan di bidang pendidikannya? Pembangunan secara fisik memang baik, namun tidak akan berdampak baik jika moral bangsanya terpuruk, karena akan berakibat dihasilkannya lulusan pendidikan yang “pinter keblinger”. Sehingga perlu adanya suatu perbaikan untuk permasalahan ini, cara yang tepat untuk memperbaiki moral bangsa adalah dengan ilmu, dan ilmu didapat dari pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan sangat penting dan perlu dijadikan prioritas dalam pembangunan negeri ini.
Permasalahan pembangunan di bidang pendidikan memang sangat menjadi sorotan, namun upaya dari pemerintah sendiri masih dikatakan sangat minim karena belum juga satu masalah terselesaikan sudah bermunculan lagi masalah yang lainnya.
Kini yang menjadi masalah umum dalam pendidikan yaitu :
  1. Kualitas peserta didik rendah, dapat dikatakan demikian karena kurangnya minat dari peserta didik untuk belajar dan mengenyam bangku sekolah serta malasnya peserta didik untuk pergi bersekolah atau belajar.
  2. Para pengajar kurang profesional, padahal keprofesionalan merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh pengajar.
  3. Biaya pendidikan yang mahal, sehingga warga masyarakat yang kurang mampu merasa tidak sanggup untuk membayarUANGsekolah dan memutuskan untuk memberhentikan anaknya sekolah. Serta minimnya informasi terkait beasiswa bagi peserta didik yang kurang mampu namun berprestasi.
  4. Bahkan UU pendidikan pun terancam kacau, karena dalam implementasinya kurang memberikan hasil yang memuaskan.
Permasalahan pendidikan yang akan lebih ditekankan dalam pembahasan ini adalah mengenai poin nomor 3 diatas yaitu tentang biaya pendidikan yang mahal, belum mencukupinya bantuan dari pemerintah serta tidak meratanya pemberian bantuan tersebut.
Pemerintah sudah berusaha dengan keras mengatasi masalah pendidikan ini. Hal ini sudah terbukti dengan adanya sekolah-sekolah gratis bagi peserta didik yang kurang mampu  yang menandakan bahwa memang pendidikan itu adalah hak semua warga negara tanpa kecuali (baik kaya maupun miskin). Namun, ternyata memang benar untuk mendapatkan pendidikan yang baik itu memerlukan biaya yang memang tidak sedikit sehingga sebagian besar sekolah masih menggalakan adanya pembayaran untuk sekolah.
Permasalahan yang muncul kemudian dan menjadi sorotan masyarakat adalah :
  1. Sekolah gratis memang ada, peserta didik bisa melaksanakan kegiatan belajar tanpa memikirkan biaya, namun sayangnya sekolah-sekolah tersebut berada di daerah terpencil.
  2. Fasilitas di sekolah kurang lengkap atau kurang memadai, hal ini dapat dikarenakan komponen sekolah tidak terlalu paham dengan perkembangan zaman atau dapat pula dikarenakan biaya dari pemerintahnya kurang mencukupi.
  3. Staf pengajarnya kurang berkompetensi, hal ini dikarenakan para pengajar dari kalangan yang ingin mengajar saja, sukarela. Oleh karena sukarela itu, makanya para pegajar lebih memilih sekolah yang dapat memberikan jaminan penghidupan yang lebih dibanding dengan mengajar di sekolah yang jaminan penghidupannya lebih kecil.
  4. Kurikulumnya tidak tepat. Pengajar akan merasa kewalahan dengan kurikulum disebabkan fasilitas dan kemampuannya yang juga terbatas.
  5. Sistem administrasi serta birokrasinya terkesan berbelit-belit. Dikatakan berbelit-belit karena kurangnya pengalaman dalam menjalankan administrasi dan birokrasi pendidikan di sekolah tersebut.
Secara jelasnya permasalahan di atas dapat digambarkan sebagai berikut :
Peta Konsep Permasalahan Pendidikan di Indonesia
Image

Sumber:
http://audiesruby.blogspot.com/2013/12/taksonomi-bloom-dan-konsep-permasalahan.html
https://santisusanti1995.wordpress.com/2013/12/10/taksonomi-bloom-ranah-kognitif-afektif-dan-psikomotor-serta-identifikasi-permasalahan-pendidikan-di-indonesia/

Minggu, 03 Mei 2015

Masalah-masalah dalam Alat Pendidikan

A.     Pengertian Alat Pendidikan

Alat pendidikan adalah tindakan atau perbuatan atau situasi yang dengan sengaja diadakan untuk membantu terlaksananya suatu proses pendidikan guna mencapai suatu tujuan pendidikan baik itu berupa benda atau bukan benda.

B.      Pembagian alat pendidikan

a.      Ditinjau dari segi wujudnya, maka alat pendidikan itu dapat berupa:

1.    Perbuatan mendidik (biasanya disebut software) mencakup nasihat teladan, larangan, perintah, pujian, teguaran, ancaman , dan hukuman
2.      Benda – benda sebagai alat bantu (biasanya disebut hardware) antara lain seperti papan tulis, meja, kursi, kapur tulis dll.

b.   Sementara itu, tindakan pendidikan yang merupakan alat pendidikan dapat ditinjau berdasarkan tiga sudut pandang, yaitu:

1.    Pengaruh tindakan terhadap tingkah laku anak didik
a. Yang bersifat positif mendorong anak didik untuk melakukan serta meneruskan tingkah laku tertentu, seperti teladan, pujian dan hadiah.
b. Yang bersifat mengekang mendorong anak didik untuk menjauihi serta menghentikan tingkah laku tertentu  seperti larangan, teguran, ancaman dan hukuman

 Akibat tindakan terhadap tindakan anak didik
a. Mencegah atau mengarahkan, seperti perintah, teladan dan larangan
b. Memperbaiki, seperti teguran, ancamandan hukuman

c.       Menurut Sifatnya Alat Pendidikan dibagi dalam dua yaitu

a.      Alat Pendidikan Preventif.

Alat pendidikan yang bersifat pencegahan, yaitu untuk menjaga agar hal-hal yang dapat mengganggu atau menghambat kelancaran proses pendidikan bisa dihindarkan

Adapun yang termasuk di dalam alat pendidikan preventif adalah:

1.      Tata Tertib, Yaitu beberapa peraturan yang harus ditaati dalam situasi atau dalam suatu tata kehidupan tertentu
2.      Anjuran dan Perintah, Anjuran adalah ajakan atau saran untuk melakukan sesuatu yang baik dan berguna. Perintah adalah anjuran yang keras untuk melakukan yang baik dan berguna
3.      Larangan, Yaitu ajakan atau saran untuk tidak melakukan hal-hal yang kurang baik dan merugikan. Biasanya larangan ini disertai dengan ancaman-ancaman
4.      Paksaan, Yaitu perintah dengan kekerasan terhadap anak untuk melakukan sesuatu yang baik danbermanfaat
5.      Disiplin, Yaitu suatu sikap mental yang dengan kesadaran dan keinsafannya mematuhi perintah-perintah atau larangan yang ada terhadap suatu hal, karena benar-benar tahu tentang pentingnya perintah atau larangan tersebut.




b.      Alat Pendidikan Repressif

Alat pendidikan repressif disebut juga alat pendidikan kuratif atau korektif. alat pendidikan ini berfungsi dimana pada suatu ketika terjadi pelanggaran tata tertib, maka alat tersebut penting untuk menyadarkan kembali kepada hal-hal yang baik, benar dan tertib.

Yang termasuk ke dalam alat pendidikan repressif antara lain:
1)      Pemberitahuan, Yaitu pemberitahuan kepada anak terhadap sesuatu hal yang kurang baik dan mengganggu jalanya proses penddikan
2)      Teguran, Yaitu pemberitahuan yang diberikan kepada anak yang sudah mengetahui atau sudah dapat diketahui atau sudah mengetahui atau sudah dapat diketahui anak itu melakukan pelanggaran
3)      Peringatan, Diberikan kepada anak yang sudah berkali-kali melakukan pelanggaran, dimana sebelumnya udah diberi teguran-teguran. Biasanya peringatan ini juga disertai ancaman-ancaman
4)      Hukuman, Yaitu suatu tindakan yang paling akhir terhadap adanya pelanggaran-pelanggaran yang sudah berkali-kali dilakukan setelah diberitahukan, ditegur, dan diperingati
5)      Ganjaran, Yaitu alat pendidikan repressif yang bersifat menyenangka, ganjaran diberikan kepada anak yang mempunyai prestasi-prestasi tertentu dalam pendidikan, memiliki kerajinan tertentu dan tingkah laku yang baik sehingga dapat dijadikan contoh tauladan bagi teman-temannya. Ganjaran dapat dibedakan menjadi beberapa macam anatara lain; pujian, penghormatan, hadiah dan tanda penghargaan

d.      Alat Pendidikan dilihat dari bentuknya

a. Berbentuk benda (materiil)
b. Berbentuk non benda (non materiil)

Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Drs. Madyo Ekosusilo yang membagi alat pendidikan menjadi dua, yaitu

1)      Alat Pendidikan yang bersifat materiil, yaitu alat-alat pengajaran yang berupa benda-benda yang nyata
2)      Alat pendidikan yang bersifat non materiil, yaitu alat-alat pendidikan yang tidak bersifat kebendaan melainkan segala macam keadaan atau kondisi, tindakan dan perbuatan yang diadakan atau dilakukan dengan sengaja sebagai sarana dalam melaksankan pendidikan

e.      Alat pendidikan dilihat dari pelaksanaannya

a. Alat pendidikan langsung (direct). Alat pendidikan langsung adalah suatu alat pendidikan yang disampaikan atau diberikan secara langsung kepada peserta didik.
b. Alat pendidikan tidak langsung (inderect). Alat pendidikan tidak langsung berarti suatu alat pendidikan yang diberikan atau disampaikan secara tidak langsung melalui perantara



C. Penggunaan Alat Pendidikan

Di dalam menggunakan alat pendidikan, seharusnya sudah ditegaskan tujuan apa yang ingin dicapai, tetapi juga harus selalu diingat, bagi para pendidik hendaknya berusaha menghindarkan tindakan yang bersifat memaksa bagi peserta didik. Disinilah seorang pendidik dituntut untuk menggunakan keterampilannya dalam memilih dan menggunakan alat pendidikan yang akan digunakan dalam mendidik. Dalam pengakaian alat pendidikan harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

1.      Tujuan pendidikan
2.      Jenis alat pendidikan
3.      Pendidik yang memakai alat pendidikan
4.      Anak didik yang dikenai alat pendidikan

Tidak hanya itu, karena banyak sekali factor-faktor yang harus diperhitungkan oleh para pendidik dalam hubungannya dengan pemakaian alat-alat pendidikan, yaitu:
1.      Faktor pendidik sebagai subjek pendidikan. Yaitu kemampuan dan keterampilan seorang pendidik dalam mengguanakn alat pendidikan
2.      Faktor anak didik. Yaitu kondisi dan situasi anak didik dalam menerima pendidikan, seperti; perkembangan jiwanya, cara berfikirnya dan sebagainya
3.      Faktor kemampuan. Dimana kemampua material sekolah maupun lembaga pendidikan juga menentukan pemakaian alat pendidikan
4.      Faktor Tempat. Yaitu dimana lokasi sekolah, juga menentukan dalam pemakaian alat pendidikan.

Pendidik sebagai pemakai alat pendidikan juga berbeda-beda keahlian dan orientasinya, meskipun dalam bidang studi yang sama, lebih-lebih dalam bidang studi yang berbeda, maka tentunya alat yang dipakai juga berbeda. Adapun hal-hal yang perlu dipertimbangkan tentang anak didik adalah dari segi jenis kelamin, usia, bakat, perkembangan dan kondisi alam sekitar.

Lalu, bagaimana dengan masalah-masalah yang muncul dari alat pendidikan tersebut? Memang ada beberapa masalah yang dapat timbul dari pemaparan diatas, khususnya pada anak didik. Kali ini saya akan memberikan masalah yang terjadi di daerah kita serta penggunaan alat pendidikan yang dapat kita jadikan pilihan untuk mengatasinya.

1.      Coba kita perhatikan gambar di bawah ini





Mungkin mencoret-coret adalah hal umum yang pasti ada dan terjadi tidak hanya di lingkungan sekolah tapi juga di lingkungan umum. Mulai dari mencoret-coret papan tulis, dinding, tembok, meja/kursi, dan apapun yang dapat di jadikan objek untuk mencoret-coret. Dari tindakan ini, tak jarang kita jumpai larangan-larangan mulai dari yang ringan hingga yang keras.


Lalu, masih haruskah kita menghukum anak didik kita dengan hukuman semacam ini?








Sekarang, coba kita perhatikan pada gambar di bawah ini,



Gambar di samping dapat terjadi bila anak tidak mendapatkan akses dalam ia mencurahkan segala aspirasinya berkaitan dengan larangan-larangan yang di tetapkan.


Padahal jika kita teliti lagi pada coretan-coretan yang ada, maka kita akan dapat menemukan bebagai kata-kata dan perasaan serta aspirasi bagi mereka yang aspirasinya tidak dapat tersampaikan/tidak di dengar oleh para petinggi di Negeri ini.






Padahal, jika di bina dengan benar maka coretan-coretan tersebut dapat menjadi gambar dan seni yang indah.



Lalu, daripada menghapus calon-calon seniman tersebut, mengapa anak-anak tersebut tidak kita latih dan kembangkan menjadi seniman dinding yang baik. Kita dapat menggunakan gedung-gedung tua yang tidak terpakai untuk melatih mereka, atau kita juga dapat menggunakan jalan/lapangan beton yang biasa di gunakan anak-anak bermain. Kita dapat adakan ekstra kulikuler mungkin agar menjadi wadah awal mereka dalam mengembangkan bakat dan hal itu juga dapat menjadi kegiatan yang bermanfaat dari pada mereka salah dalam memilih pergaulan/perkumpulan teman karena kita sendiri juga ikut mengawasi mereka

Dari hal tersebut kita dapat memperoleh banyak manfaat, jika karya mereka bagus dan layak mengapa tidak kita tawarkan/publikasikan secara umum. Dan bila ada yang tertarik, bukan tidak mungkin mereka dapat di pekerjakan untuk menghias gedung atau bangunan atau mungkin mengikut sertakan dalam even-even tertentu. 


2.      Klothekan


Pernahkah anda mendengar istilah “klotekan”? Saya akan mendeskribsikan sedikit tentang klotekan, klotekan tersebut biasa dilakukan oleh anak-anak didik mulai dari SD hingga SMA bahkan sampai anak kuliahan pun kadang melakukan hal ini walaupun hanya sebentar dan tingkatannya pun tidak separah anak SD. Klotekan sendiri di lakukan dengan cara membuat suara-suara dari berbagai barang yang di pukulkan antara satu dengan yang lain. Barang tersebut dapat berupa kayu, besi, atau lain sebagainya yang dapat di buat musik, lagu atau nada-nada tersendiri oleh para anak-anak yang bermain klotekan. 

Memang hal tersebut sangat bagus untuk mengembangkan kreasivitas anak  didik, Namun jika hal itu dilakukan ketika jam pelajaran bukankah akan menyebabkan kebisingan yang akan mengganggu kelas lain? Apalagi dari klotekan tersebut pasti akan merusak fasilitas kelas seperti meja kelas dapat retak, kayu-kayu berceceran, dan lain-lain. Maka dari itu kita dapat mencari siasat tanpa menghilangkan kreativitas dari anak didik kita. Kita buat ekstra kulikuler seperti drum band, karawitan, rabana atau lain sebagainya. Disana kita bina mereka agar dapat meningkatkan kreatifitas dan potensi yang ada pada diri mereka, sehingga semua aspirasi mereka dapat tercurahkan dengan benar. 


Tapi, memang benar bahwa biaya untuk membeli fasilitas tersebut tidak bisa di bilang murah. Apalagi untuk daerah-daerah pedesaan yang sederhana serta pendapatan masyarakat yang masih tergolong menengah ke bawah. Untuk itu, dapat kita siasati dengan menggabungkan dana dari beberapa sekolah di daerah tersebut. Kita gabungkan  sekolah-sekolah di daerah tersebut, lalu kita pilih bibit-bibit yang berkualitas. Sehingga jika diadakan lomba daerah tersebut telah terwakili sehingga diharapkan dapat memengkan perlombaan dan membantu memperkenalkan kualitas dari ekstra kulikulers sekolah tersebut. 

Dengan terkenalnya kualitas dari ekstra kulikuler tersebut, maka warga yang mempunyai acara seperti hajatan, syukuran, sunatan, dll dapat menyewa jasa dari ekstra kulikuler tersebut sehingga dapat mendatangkan dana yang dapat memperbaiki fasilitas dari kulikuler tersebut. 


Tidak hanya dapat di jadikan personil drum band, para anak-anak dapat pula kita latih untuk membantu masyarakat ketika puasa. Mereka dapat kita arakan untuk membangunkan warga untuk sahur ( bedug sahur). Di sana mereka dapat melatih fisik dan mental mereka sehingga fisik dan mental mereka dapat terlatih bila nanti harus berhadapan dengan umum bila ingin menjadi personil drum band. Mereka juga dapat kita latih untuk memeriahkan ketika nanti hari raya idul fitri datang. Mereka dapat memukul bedug takbiran bersama-sama sehingga dapat menambah kemeriahan dan keakraban antar teman sebaya.






Jadi dalam penggunaan alat pendidikan, seorang pendidik harus mampu mempertimbangkan pemakaian alat yang benar dan sesuai kebutuhan. Selain itu seorang pendidik juga harus memiliki kewibawaan dalam melaksanakan tugasnya karena kewibawaan seorang pendidik adalah suatu alat pendidikan yang dapat membawa anak didik kepada kedewasaan. Dengan kewibawaan itu seorang anak dapat menghargai dan patuh kepada pendidik


Mari kita wujudkan masa depan yang lebih baik untuk Negeri kita.




Daftar pustaka:

http://ariefbopcess.blogspot.com/2014/10/makalah-alat-pendidikan.html